Senin, 27 Desember 2010

FILSAFAT PENDIDIKAN



FILSAFAT PROGRESIVISME.
By: La Ludi
( Guru MAN 1 Kendari )
 
1. Latar Belakang.
Progresivisme bukan merupakan suatu bangunan filsafat atau aliran filsafat yang berdiri sendiri, melainkan suatu gerakan dan perkumpulan yang didirikan pada tahun 1918. Selama dua puluh tahunan merupakan suatu gerakan yang kuat di Amerika Serikat. Banyak guru yang ragu-ragu terhadap gerakan ini, kerena guru telah mempelajari dan memahami filsafat Dewey, sebagai reaksi terhadap filsafat lainnya. Kaum progresif sendiri mengkritik filsafat Dewey. Perubahan masyarakat yang dilontarkan oleh Dewey adalah perubahan secara evolusi, sedangkan kaum progresif mengharapkan perubahan yang sangat cepat, agar lebih cepat mencapai tujuan.
Pada mulanya, filsafat ini merupakan sebahagian dari pada pergerakkan sosial politik yang besar di Amerika di mana progresivisme mendukung cita-cita untuk pembaharuan umum dan progresivisme dipengaruhi kehidupan di Amerika Serikat pada abad ke 19 atau akhir abad ke 20. Ahli-ahli politik progresivisme seperti Robert La Follette dan Woodrow Wilson melakukan sistem demokrasi dilaksanakan untuk menggantikan dasar monopoli. Mereka memberi tumpuan untuk memperbaiki kehidupan manusia dalam masyarakat.
Progresivisme bertujuan memberi kemahiran dan alat yang diperlukan kepada individu untuk berinteraksi dengan sekitarnya yang senantiasa berubah secara konstan. Alat ini merupakan kemahiran penyelesaian masalah di mana individu boleh menggunakannnya untuk mengenal pasti, menganalisa dan menyelesaikan masalah di dalam mata pelajaran yang dipelajari seperti mata pelajaran matematika modern, matematika tambahan, teori, lukisan kesusasteraan dan banyak lagi. Sementara itu, progresivisme juga boleh digunakan untuk menyelesaikan masalah di dalam permasalahan-permasalahan berkaitan dengan pribadi atau personal dan juga sosial. Proses pembelajaran berfokus kepada kerjasama dan disiplin diri yang mana kedua-duanya adalah diperlukan untuk hidup dalam masyarakat berdemokrasi.
Gerakan progresif terkenal luas karena reaksinya terhadap formalime dan sekolah tradisional yang membosankan, yang menekankan disiplin keras, belajar pasif dan banyak hal-hal kecil yang tidak bermanfaat dalam pendidikan. Lebih jauh gerakan ini dikenal karena dengan himbauannya kepada guru-guru: "Kami mengharapkan perubahan, serta kemajuan yang lebih cepat setelah perang dunia pertama". Banyak guru yang mendukungnya, sebab gerakan pendidikan progresivisme merupakan semacam kendaraan mutahir, untuk digelarkan.
Dengan melandanya "adjustment" pada tahun tiga puluhan, progresivisme melancarkan gebrakannya dengan ide-ide perubahan sosial. Perubahan yang lebih diutamakan adalah perkembangan individual, yang mencakup berupa cita-cita, seperti "kerja sama ", "keadilan", dan "penyesuaian", yaitu kerja sama dalam semua aspek kehidupan, turut ambil bagian dalam semua kegiatan, dan memiliki daya fleksibilitas untuk menyesuaikan dengan perubahan-perubahan yang terjadi.
Pada tahun 1944 gerakan ini dibubarkan dan mengganti nama menjadi 'American Educational F ellowship". Gerakan progresif mengalami kemunduran setelah Rusia berhasil meluncurkan satelit pertamanya, yaitu "Sputnik". Selanjutnya cara kerja dan perkumpulan ini lebih menunjukkan karya-karya individual, seperti George Axtelle, William 0. Stanley, Ernest Bayley, Lawrence B. Thomas, dan Frederick C. Neff
2. Strategi Progresif
Filsafat progresif berpendapat bahwa pengetahuan yang benar pada masa kini mungkin tidak benar di masa mendatang. Oleh karena itu, cara terbaik mempersiapkan para siswa untuk suatu masa depan yang tidak diketahui adalah membekali mereka dengan strategi-strategi pemecahan masalah yang memungkinkan mereka mengatasi tantangan-tantangan baru dalam kehidupan dan untuk menemukan kebenaran-kebenaran yang relevan pada saat ini. Melalui analisis diri dan refleksi yang berkelanjutan, individu dapat mengidentifikasi nilai-nilai yang tepat dalam waktu yang dekat.
Orang-orang progresif merasa bahwa kehidupan itu berkembang dalam suatu arah positif dan bahwa umat manusia, muda maupun tua, baik dan dapat dipercaya untuk bertindak dalam minat-minat mereka sendiri. Berkenaan dengan ini, para pendidik (ahli pendidikan) yang memiliki suatu orientasi progresif memberi kepada para siswa sejumlah kebebasan dalam menentukan pengalaman - pengalaman sekolah mereka. Sekalipun demikian, pendidikan progresif tidak berarti bahwa para guru tidak memberi struktur atau para siswa bebas melaksanakan apapun yang mereka inginkan. Guru - guru progresif memulai dengan posisi di mana keberadaan siswa dan, melalui interaksi keseharian di kelas, mengarahkan siswa untuk melihat bahwa mata pelajaran yang akan dipelajari dapat meningkatkan kehidupan mereka.
Peran guru dalam suatu kelas yang beronentasi secara progresif adalah berfungsi sebagai seorang pembimbing atau orang yang menjadi sumber, yang pada intinya memiliki tanggung jawab untuk memfasilitasi pembelajaran siswa. Guru berhubungan dengan membantu para siswa mempelajari apa yang penting bagi mereka bukannya memberikan sejumlah kebenaran yang dikatakan abadi. Terhadap tujuan ini, guru progresif berusaha untuk memberi siswa pengalaman - pengalaman yang mereplikasi / meniru kehidupan keseharian sebanyak mungkin. Para siswa diberi banyak kesempatan untuk bekerja secara kooperatif di dalam kelompok, seringkali pemecahan masalah yang dlipandang penting oleh kelompok itu, bukan oleh guru.
3. Pendidikan
Progresivisme didasarkan pada keyakinan bahwa pendidikan harus terpusat pada anak bukannya memfokuskan pada guru atau bidang muatan. Tulisan - tulisan John Dewey pada tahun 1920-an dan 1950-an berkontribusi cukup besar pada penyebaran gagasan - gagasan progresif. Progresivisme pengikut Dewey didasarkan pada keenam asumsi berikut ini.
a. Muatan kurikulum harus diperoleh dari minat-minat siswa bukannya dari disiplin-disiplin akademik.
b. Pengajaran dikatakan efektif jika mempertimbangkan anak secara menyeluruh dan minat-minat serta kebutuhan-kebutuhannya dalam hubungannya dengan bidang - bidang kognitif afektif dan psikomotor.
c. Pembelajaran pada pokoknya aktif bukannya pasif. Guru yang efektif memberi siswa pengalaman-pengalaman yang memungkinkan mereka belajar dengan melakukan kegiatan.
d. Tujuan dan pendidikan adalah mengajar para siswa berpikir secara rasional sehingga mereka menjadi cerdas, yang memberi kontribusi pada anggota masyarakat.
e. Di sekolah, para siswa mempelajari nilai-nilai personal dan juga nilai-nilai sosial dan sains.
f. Umat manusia ada dalam suatu keadaan yang berubah secara konstan, dan pendidikan memungkinkan masa depan yang lebih baik dibandingkan dengan masa lalu.
Menurut Henderson (1959), pendidikan progresivisme dilandasi oleh filsafat naturalisme romantik dan Rousseau, dan pragmatisme dan John Dewey. Filsafat Jean Jacques Rousseau yang mendasani pendidikan progresivisme adalah pandangan tentang hakikat manusia, sedangkan dan pragmatisme Dewey, adalah pandangan tentang minat dan kebebasan dalam teori pengetahuan.
Rousseau, seorang ahli filsafat Perancis, mendasari pemiikiran-pemikiran pendidikannya dengan ucapannya yang terkenal, yaitu:
" Semuanya adalah baik karena datang dari tangan-tangan dari penulis secara alami, tetapi semuanya akan merosot tergantung dari tangan dari manusia") (Henderson, 1959 : 30). Jadi, segala sesuatu, termasuk anak, dilahirkan adalah baik berasal dari pencipta alam, namun semuanya itu mengalami degenerasi, penyusutan martabat, dan nilai-nilai kemanusiaannya karena tangan-tangan manusia. Rousseau mengklaim bahwa ia merupakan nabi dan pendidikan naturalisme, demikian menurut Jame dan Rose (1941). Manusia memiliki kebebasan bertindak. Barang siapa mengingkari kebebasan seseorang, berarti mengingkari kualitasnya sebagai manusia, menyangkal hak, dan kewajiban kemanusiaan. Karena hal itu semua bertentangan dengan hakikat manusia. Menyangkal kebebasan dan kemauan manusia berati meniadikan kesusilaan dan tindakannya.
James S. Rose (1941 :88) mengemukakan pandangan Rousseau tentang pendidikan, dengan mengutip tulisan Rousseau dan "Emile" sebagai berikut:
Manusia pada hakikatnya baik, namun masyarakat manusialah yang rnenjadikan dia jahat. Rousseau ingin menjadikan anak terpisah dari kelompok manusia. Emile mengatakan belajar dari alam, bukan dari manusia. Ia belajar pengalaman dari pribadinya secara langsung, bukan dari mata pelajaran ( pengalaman yang telah diorganisasikan manusia), ia adalah penemu bukan peniru, ia dimunculkan daya kreasinya, bukan daya ingatannya, ia belajar tengantung pada dirinya, bukan kepada orang lain. Oleh karena itu, anak harus memiliki kebebasan yang besar untuk bertindak.
Rousseau ingin menjauhkan anak dari segala keburukan masyarakat yang serba dibuat-buat, sehingga kebaikan anak-anak yang dimiliki secara alamiah sejak saat kelahiran dapat berkembang secara spontan dan bebas. Pendidikan menurut Rousseau, harus dapat menjauhkan anak dari segala yang bersifat dibuat-buat dan dapat membawa anak kembali pada alam untuk mempertahankan segala yang baik sebagaimana yang telah diberikan oleh Yang Maha Pencipta. Rousseau menginginkan dikembangkannya aturan masyarakat yang deniokratis, sehingga kecenderungan alamiah anggota masyarakat dapat terwujud sebagaimana adanya. Suatu bentuk pendidikan tertentu perlu diselenggarakan untuk menjaga agar perwujudan alamiah tersebut tidak dirugikan.
Rousseau sebagai tokoh naturalisme, menekankan aktivitas pribadi, kebebasan dan ekspresikan diri. Anak pada hakikatnya adalah baik, dan alam juga baik, namun masyarakatlah yang menjadikan anak tidak baik. Pendidikan mengutamakan minat dan kebutuhan anak. Oleh karena itu, program pendidikan akan diorganisasi sekitar dan sesuai dengan minat serta kebutuhan anak.
Pandangan progresivisme tentang realitas, seperti halnya pandangan John Dewey, bahwa "perubahan" dan "ketidak tetapan" merupakan esensi dari realitas. Menurut progresivisme, pendidikan selalu dalam proses pengembangan, penekanannya adalah perkembangan individu, masyarakat, dan kebudayaan. Pendidikan harus siap memperbaharui metode, kebijaksanaannya, berhubungan dengan perkembangan sains dan teknologi, serta perubahan lingkungan.
Untuk memperoleh pengetahuan yang benar, kaum progresif sepakat dengan pandangan Dewey, yaitu menekankan pengalaman indera, belajar sambil bekerja, dan mengembangkan intelegensi, sehingga anak dapat menemukan dan memecahkan masalah yang dihadapi.
Kualiatas atau hasil dari pendidikan, tidak ditentukan dengan menentukan atau menetapkan suatu ukuran yang berlaku secara mutlak dan abadi. Norma atau nilai kebenaran yang abadi tidak dapat dijadikan ukuran untuk menentukan berhasil tidaknya usaha pendidikan. Pendidikan dapat diartikan sebagai suatu rekonstruksi pengalaman yang berlangsung secara terus-menerus.
4. Perhatian Terhadap Anak Didik.
Proses belajar terpusat kepada anak, namun hal ini tidak berarti bahwa anak akan diizinkan untuk mengikuti semua keinginannya, karena ia belum cukup matang untuk menentukan tujuan yang memadai. Anak memang banyak berbuat dalam menentukan proses belajar, namun ia bukan penentu akhir. Peserta didik membutuhkan bimbingan dan arahan dari guru dalam melaksanakan aklivitasnya.
Pengalaman anak adalah rekonstruksi yang terus-menerus dari keinginan dan kepentingan pribadi. Mereka aktif bergerak untuk mendapatkan isi mata pelajaran yang logis. Guru mempengaruhi pertumbuhan siswa, tidak dengan menjejalkan inform asi ke dalam kepala anak, melainkan dengan pengawasan lingkungan di mana pendidikan berlangsung. Pertumbuhan diartikan sebagai peningkatan intelegensi dalam pengelolaan hidup dan adaptasi yang intelegen terhadap lingkungan.
5. Tujuan Pendidikan.
Sekolah merupakan masyarakat demokratis dalam ukuran kecil, di mana siswa akan belajar dan praktek keterampilan yang dibutuhkan untuk hidup dalam demokrasi. Dengan pengalamannya, siswa akan mampu menghadapi perubahan dunia. Karena realitas berubah terus - menerus, kaum progresif tidak memusatkan perhatiaannya terhadap body of knowledge yang pasti, sama seperti halnya dengan pandangan perenialisme dan esensialisme. Kaum progresif menekankan "bagaimana berpikir", bukan "apa yang dipikirkan ".
Tujuan pendidikan adalah memberikan keterampilan dan alat- alat yang bermanfaat untuk berinteraksi dengan lingkungan yang berada dalam proses perubahan secara terus-menerus. Yang dimaksud dengan alat-alat adalah keterampilan pemecahan masalah yang dapat digunakan oleh individu untuk menentukan, menganalisis, dan memecahkan masalah. Proses belajar terpusatkan pada perilaku cooperative dan disiplin diri. Di mana kebudayaan sangat dibutuhkan dan sangat berfungsi dalam masyarakat.
6. Pandangan Tentang Belajar
Kaum progresif menolak pandangan bahwa belajar secara esensial merupakan penerimaan pengetahuan sebagai suatu subtansi abstrak yang diisikan oleh guru ke dalam jiwa anak. Pengetahuan menurut pandangan progresif merupakan alat untuk mengatur pengalaman, untuk menangani situasi baru secara terus-menerus, di mana perubahan hidup merupakan tantangan di hadapan manusia.
Manusia harus dapat berbuat dengan pengetahuan. Oleh karena itu, pengetahuan harus bersumber pada pengalaman. Menurut Dewey kita harus mempelajari apa saja dan sains eksperimental. Penelusuran pengetahuan abstrak harus diartikan ke dalam pengalaman pendidikan yang aktif. Apabila siswa menghasilkan suatu apresiasi yang nyata yang berkaitan dengan ide-ide politik dan sosial, kelas (sekolah) itu sendiri harus menjadi eksperimen kehidupan dalam demokrasi sosial. Pengalaman dan eksperimen merupakan kata-kata kunci dalam kegiatan belajar mengajar.
Dewey tidak menolak isi kurikulum tradisional. Sebaliknya kurikulum tersebut perlu dipelihara dan dikuasai. Selanjutnya Dewey mengatakan bahwa yang perlu diingat adalah materi pelajaran atau isi pelajaran selalu berubah terus-menerus sesuai dengan perubahan yang berlaku dalam lingkungannya. Oleh karena itu, pendidikan tidak dibatasi hanya pada sekedar pengumpulan informasi dari guru atau dari text book saja. Belajar bukan penerimaan dan penerapan terhadap pengetahuan terdahulu yang telah ada, melainkan suatu rekonstruksi yang terus-menerus sesuai dengan penemuan-penemuan baru. Oleh karena itu, pemecahan masalah (dengan metode ilmiah), harus dilihat bukan hanya dan sekedar penyelidikan pengetahuan fungsional, melainkan sebagal suatu kaitan yang secara terus-menerus dengan subject matter.
7. Kurikulum dan Peranan Guru.
Kurikulum disusun sekitar pengalaman siswa, baik pengalaman pribadi maupun pengalaman sosial. Sains sosial sering dijadikan pusat pelajaran yang digunakan dalam pengalaman-pengalaman siswa, dan dalam pemecahan masalah serta dalam kegiatan proyek. Pemecahan masalah akan melibatkan kemampuan berkomunikasi, proses matematis, dan penelitian ilmiah. Oleh karena itu, kurikulum seharusnya menggunakan pendekatan interdisipliner. Buku merupakan alat dalam proses belajar, bukan sumber pengetahuan. Metode yang dipergunakan adalah metode ilmiah dalam inkuiri dan metode problem solving
Peranan guru adalah membimbing siswa-siswa dalam kegiatan pemecahan masalah dan kegiatan proyek. Mungkin akan banyak guru yang kurang senang terhadap peran ini, karena didasarkan atas suatu anggapan bahwa siswa mampu berpikir dan mengadakan penjelajahan terhadap kebutuhan dan minat sendiri.
Guru harus menolong siswa dalam menentukan dan memilih masalah-masalah yang bermakna, menemukan sumber-sumber data yang relevan, manafsirkan dan menilai akurasi data, serta merumuskan kesimpulan. Guru harus mampu mengenali siswa, terutama pada saat apakah ia memerlukan bantuan khusus dalam suatu kegiatan, sehingga ia dapat meneruskan penelitiannya. Guru dituntut untuk sabar, fleksibel, berpikir interdisipliner, kreatif, dan cerdas.
8. Prinsip - prinsip Pendidikan
Secara umum terdapat beberapa prinsip pendidikan menurut pandangan progresivisme, yaitu :
1) Pendidikan adalah hidup itu sendiri, bukan persiapan untuk hidup. Kehidupan yang baik adalah kehidupan intelegen, yaitu kehidupan yang mencakup interpretasi dan rekonstruksi pengalaman. Anak akan memasuki situasi belajar yang disesuaikan dengan usianya dan berorientasi pada pengalaman. Tidak ada tujuan umum dan akhir pendidikan. Pendidikan adalah pertumbuhan berikutnya.
2) Pendidikan harus berhubungan secara langsung dengan minat anak, minat individu, yang dijadikan sebagai dasar motivasi belajar. Sekolah menjadi "pusat perhatian siswa”, di mana proses belajar ditentukan terutama oleh anak. Secara kodrati anak suka belajar apa saja yang berhubungan dengan minatnya, atau untuk memecahkan masalahnya. Begitu pula pada dasamya anak akan menolak apa yang dipaksakan kepadanya. Anak akan belajar dan mau belajar karena merasa perlu, tidak karena terpaksa oleh orang lain. Anak akan mampu melihat relevansi dan apa yang dipelajari terhadap kehidupannya, bahkan juga terhadap konsepsi kehidupan orang dewasa.
3) Belajar melalui pemecahan masalah akan menjadi lebih baik terhadap pemberian subjeck matter. Jadi, belajar harus dapat memecahkan masalah yang penting dan bermanfaat bagi kehidupan anak. Dalam memecahkan suatu masalah, anak dibawa berpikir melewati beberapa tahapan, yang disebut metode berpikir ilmiah, sebagai berikut:
a) anak menghadapi keraguan, merasakan adanya masalah;
b) menganalisis rnasalah tersebut, dan menduga atau menyusun hipotesis-hipotesis yang mungkin;
c) mengumpulkan data yang akan membatasi dan memperjelas
masalah;
d) memilih dan menganalisis hipotesis;
e) mencoba, menguji, dan membuktikan.
4) Peranan guru tidak langsung, melainkan memberi petunjuk kepada siswa. Kebutuhan dan minat siswa akan menentukan apa yang mereka pelajari. Anak harus diizinkan untuk merencanakan perkembangan diri mereka sendiri, dan guru harus membimbing kegiatan belajar.
5) Sekolah harus memberi semangat bekerja sama, bukan mengembangkan persaingan. Manusia pada dasamya sosial, dan keputusan yang paling besar pada manusia karena ia berkomunikasi dengan yang lain. Progresivisme berpandangan bahwa kasih sayang dan persaudaraan lebih berharga bagi pendidikan dan pada persaingan dan usaha pribadi. Karena itu, pendidikan adalah rekonstruksi pengalaman, mengarah kepada rekonstruksi manusia dalam kebidupan sosial. Persaingan tidak ditolak, namun persaingan tersebut harus mampu mendorong pertumbuhan pribadi.
6) Kehidupan yang demokratis merupakan kondisi yang diperlukan bagi pertumbuhan. Demokrasi, pertumbuhan, dan pendidikan saling berhubungan. Untuk mengajar demokrasi, sekolah sendiri harus demokratis. Sekolah harus menekankan siswa, diskusi bebas tentang suatu masalah, partisipasi penuh dalam semua pengalaman pendidikan. Namun, sekolah tidak mengindoktrinasi siswa-siswa dengan tatanan sosial yang baru.
9. Potret Guru Progresif
Pak Husen mengajar IPS di suatu sekolah menengah. Ia tampaknya bergaul baik dengan para siswa. Ia suka memberi siswa kebebasan memilih sebanyak mungkin di kelas. Karena itulah, ruangannya dibagi-bagi menjadi pusat minat dan aktivitas, dan para siswa bebas memiiih dimana mereka ingin menghabiskan waktu mereka.
Pak Husen bermaksud membangun hubungan yang hangat dan sportif dengan para siswa. Ia bangga terhadap fakta bahwa ia adalah teman para siswa mereka. Pengunjung kelas Pak Husen saat ini tepat merasakan penerimaannya yang jelas bagi siswa. Ia secara sungguh-sungguh peduli rnengenai pertumbuhan dan pendidikan masing-masing siswa. Ketika para siswa rnenghabiskan sebagian besar dan waktu mereka bekerja dalam kelompok-kelompok kecil pada beragam aktivitas yang terpusat pada ruangan tersebut, Pak Husen membagi waktunya di antara kelompok-kelompok itu.
Sebanyak mungkin Ia membawa pengetahuan buku teks pada kehidupan dengan memberi para siswa pengalaman-pengalaman yang tepat, seperti: kunjungan lapangan, proyek kelompok kecil, aktivitas simulasi, bermain peran, eksplorasi internet, dan sebagainya. Pak Husen percaya bahwa fungsi pokoknya sebagai seorang guru adalah mempersiapkan para siswanya untuk masa depan yang tidak dikenal. Ia merasa bahwa belajar memecahkan permasalahan pada usia dini adalah persiapan yang terbaik untuk masa depan ini.
10. Kritik terhadap progresivisme.
Ada beberapa kritik yang dilontarkan pada pandangan progresivisme, di antaranya:
1) Siswa tidak mempelajari warisan sosial. Mereka tidak mengetahui apa yang seharusnya diketahui oleh orang terdidik.
2) Menolak kurikulum yang telah ditentukan, yang menjadi tradisi sekolah. Membuat kurikulum tersendiri
3) Mengurangi bimbingan dan pengaruh guru. Siswa memilih aktivitas sendiri.
4) Siswa menjadi orang yang dapat mementingkan diri sediri, ia menjadi manusia yang tidak memiliki disiplin diri sendiri, dan tidak mau berkorban demi kepentingan umum.
PROGRESSIVISME
Gerakan progresif terkenal luas karena reaksinya terhadap formalime dan sekolah tradisional yang membosankan, yang menekankan disiplin yang keras, belajar pasif, dan banyak hal-hal kecil tidak bermanfaat dalam pendidikan. Dari sejak tahun 1870-an Francis W.Parker, mendukung perubahan sekolah, kemudian ditinjau kembali dan disusun oleh Yohanes Dewey sampai tahun 1915, sebelum Progressive Education Association itu ditemukan. Jadi; Dengan demikian, proressivism sudah lama bergerak selama 30 tahun dan dampak nya sebenarnya telah dirasakan.
Akibat dari berbagai tekanan yang terjadi di dalam tahun 1930-an, progressivisme melancarkan gerakannya dengan ide-ide perubahan sosial. Perubahan yang lebih diutamakan adalah perkembangan individual, yang mencakup berupa cita-cita, seperti "kerjasama," "keadilan," dan "penyesuaian”, yaitu kerjasama dalam semua aspek kehidupan, turut ambil bagian dalam semua kegitan, dan memiliki daya fleksibilitas untuk menyesuaikan dengan perubahan-perubahan yang terjadi. Asosiasi Education yang progresif telah lama dibubarkan, dan mengalami kemunduran terutama setelah USSR meluncurkan Sputnik nya, tetapi progressivisme melanjutkan cara-cara kerja dan perkumpulannya dengan lebih menunjukkan karya-karya individual, seperti George Axtelle, William O.Stanley, Ernest Bayles, Lawrence G.Thomas, dan Frederick C.C. Neff.
Berdasarkan pandangan pragmatis bahwa perubahan, dan ketidak tetapan”, adalah hakekat dari kenyataan. Progressivisme dalam wujud yang murni memperkenalkan bahwa pendidikan adalah selalu dalam proses pengembangan. Pendidik-pendidik harus siap untuk memodifikasi metoda-metoda dan kebijakan-kebijakan, berhubungan dengan perkembangan pengetahuan dan perubahan yang baru di dalam lingkungan. Mutu pendidikan, tidak ditentukan dengan menerapkan suatu ukuran standar-standar kebaikan, kebenaran, dan keindahan, tetapi dengan pendidikan diartikan sebagai suatu rekonstruksi pengalaman yang berkesinambungan secara terus menerus.
Secara umum terdapat beberapa prinsip pendidikan menurut pandangan progresivisme, yaitu :
1) Pendidikan adalah hidup itu sendiri, bukan persiapan untuk hidup. Kehidupan yang baik adalah kehidupan intelegen, yaitu kehidupan yang mencakup interpretasi dan rekonstruksi pengalaman. Anak akan memasuki situasi belajar yang disesuaikan dengan usianya dan berorientasi pada pengalaman-pengalaman bahwa anak akan mengalami kehidupan orang dewasa.
2) Pengajaran harus secara langsung dihubungkan dengan berbagai kepentingan anak. Pendidik progresif harus memperkenalkan konsep "anak secara utuh" sebagai satu jawaban atas apa yang mereka pertimbangkan; terhadap anggapan atau penafsiran sebagian sifat anak. Jadi; Dengan demikian sekolah menjadi pusat "perhatian anak ", di mana proses belajar ditentukan oleh setiap anak. Secara kodrati anak suka belajar apa saja yang berhubungan dengan minatnya, atau untuk memecahkan masalahnya. Begitu pula pada dasamya anak akan menolak apa yang dipaksakan kepadanya. Anak akan belajar dan mau belajar karena merasa perlu, tidak karena terpaksa oleh orang lain. Anak akan mampu melihat relevansi yang dipelajari terhadap kehidupannya, bahkan juga terhadap konsepsi kehidupan orang dewasa.
Hal ini tidak berarti bahwa anak itu harus diizinkan untuk mengikuti setiap dorongan keinginan-keinginan nya sendiri, walaupun hanya untuk fakta bahwa anak tidak cukup dewasa untuk menggambarkan tujuan-tujuan penting. Dan meski mungkin kebanyakan anak menentukan proses pelajaran, ia bukanlah tujuan yang akhir. Anak memerlukan bimbingan dan arahan dari para guru dalam segala aktivitasnya. Anak mengalami suatu rekonstruksi yang berkesinambungan berbagai kepentingan pribadi nya ketika mereka melakukan berbagai aktivitas yang penting dan logis.
Meskipun demikian, guru yang progresif mempengaruhi pertumbuhan dari para murid nya, bukan hanya dengan memberikan informasi ke dalam pikiran mereka, akan tetapi dengan pengendalian lingkungan di mana pertumbuhan berlangsung. Pertumbuhan digambarkan sebagai peningkatan dari kecerdasan atau inteligensi di dalam pengelolaan penyesuaian hidup di dalam lingkungannya. 

References.
Kneller, George F. (1971). Introduction to the Philosophy of Education, New York : John Willey Sons Inc.

RINGKASAN MATERI HOW TO DESIGN AND EVALUATE RESEARCH IN EDUCATION (By Jack R. Fraenkel and Norman E. Wallen)


CHAPTER 16

SURVEY RESEARCH

By: La Ludi

( Guru MAN 1 Kendari )


Penelitian survey merupakan salah satu bentuk penelitian yang lazim di gunakan dalam bidang pendidikan. Survey digunakan untuk mengumpulkan data atau informasi tentang suatu masalah atau issu. Survey dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu: face to face (wawancara langsung) dengan individu atau kelompok, melalui surat atau telepon. Setiap metode memiliki keuntungan dan kerugian. Setiap pertanyaan dirancang sedemikian rupa yang merupakan inti dari penelitian survey ini.
Dalam bab ini akan dipelajari arti survey dan maksudnya, tipe dan kegunaan survey, perbedaan antara survey longitudinal dengan survey cross sectional, perbedaan penelitian survey dengan tipe penelitian yang lain, cara-cara survey melalui surat, telepon maupun wawancara langsung serta keuntungan dan kerugiannya, kemudian mengapa non respon merupakan masalah dalam penelitian survey dan bagaimana memperbaikinya?
Apakah survey itu?
Para peneliti sering tertarik pada opini sekelompok masyarakat tentang sebuah topik atau masalah tertentu. Mereka menanyakan beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan masalah tersebut kemudian mencoba menemukan jawabannya. Di sini dicontohkan seorang ketua jurusan sebuah universitas terkenal yang tertarik untuk meneliti bagaimana sekelompok mahasiswa mencapai gelar master. Dia menggunakan 50 mahasiswa sebagai sampel, kemudian membuat daftar pertanyaan untuk mengetahui sikap mereka terhadap program yang diikuti. Dia merancang pertanyaan untuk melakukan wawancara langsung terhadap ke 50 mahasiswa tersebut selama lebih dari dua pekan. Respon yang diberikan oleh mahasiswa kemudian diberi kode, lalu kesimpulan dibuat dari hasil wawancara tersebut, yang disamaratakan ke dalam populasi dari sampel yang diseleksi.
Dari contoh di atas, diperoleh kharakteristik-kharakteristik sebagai berikut;
1. Informasi dikumpulkan dari sekelompok orang yang menggambarkan beberapa aspek, seperti; kemampuan, opini, sikap, dan pengetahuan dari responden yang diteliti.
2. Inti dari cara pengumpulan informasi yaitu melalui pemberian pertanyaan-pertanyaan, kemudian jawaban-jawaban yang diberikan oleh responden dijadikan sebagai data penelitian.
3. Informasi diperoleh dari sampel, bukan dari populasi.
Mengapa survey dilakukan?
Tujuan utama dari survey adalah untuk mendeskripsikan karakteristik dari suatu populasi. Intinya,apa yang ingin disimpulkan oleh peneliti adalah bagaimana respon mendistribusikan satu atau lebih variabel mereka, seperti: usia, etnis/suku, agama, dan sikap mereka terhadap sekolah. Sebagai bagian lain dari sebuah penelitian populasi secara keseluruhan jarang dipelajari. Jadi, sampel yang dikumpulkan dari responden melalui survey dan pendeskripsian dilakukan dengan hati-hati dan populasi ditarik dari apa yang ditemukan pada sampel tersebut. Misalnya : peneliti tertarik untuk menguraikan bagaimana karakteristik (umur, jenis kelamin, etnis, termasuk politik,dsb) dari guru sekolah menengah atas yang ada dalam suatu kelompok, maka peneliti akan memilih guru-guru dalam kota tersebut sebagai sampel untuk di survey.
Dalam melakukan survey terdapat dua tipe, yaitu: cross-sectional survey dan longitudinal survey
1. Cross-sectional survey; dimana informasi dikumpulkan dari sampel yang diambil dari populasi yang telah ditetapkan. Informasi dikumpulkan pada satu titik /saat tertentu. Waktu yang digunakan untuk mengumpulkan data yang diinginkan diambil kapan saja. Bilamana seluruh populasi disurvey, maka hal ini disebut sensus.
2. Longitudinal survey; dimana informasi dikumpulkan pada titik waktu yang berbeda dari suatu waktu untuk mempelajari perubahan populasi. Tiga model survey longitudinal yang digunakan dalam survey antara lain: trend studies, cohort studies dan panel studies.
a. Trend studies; sampel yang yang berbeda dari populasi yang sama disurvey pada titik waktu yang berbeda.
Contoh : seorang peneliti tertarik pada sikap kepala sekolah menengah tentang masalah penggunaan “flexible scheduling”. Penulis akan memilih sampel dari para kepala sekolah tiap tahun. Walaupun populasi agak berubah dan individu yang sama tidak dijadikan sampel untuk tiap tahunnya. Jika dalam memperoleh sampel digunakan sistim random, maka respon yang diperoleh tiap tahun dapat dianggap cukup layak mewakili keadaan populasi para kepala sekolah. Peneliti kemudian akan menguji dan membandingkan respon-respon dari tahun ke tahun untuk melihat trend yang kelihatan.
b. Cohort studies; populasi yang spesifik diikutkan selama periode waktu. Kalau sampel pada trend studies diambil dari populasi yang anggotanya berubah setiap waktu, maka sampel pada cohort studies diambil dari populasi yang anggotanya tidak berubah selama survey berlangsung. Nama-nama semua sampel didaftar dan dari daftar tersebut akan dipilih lagi sebagai sampel untuk waktu yang berbeda.
c. Panel studies; sampel tidak berubah selama survey berlangsung. Peneliti mempelajari individu-individu yang sama, peneliti mencatat karakter mereka atau sifat mereka dan mencari penyebab adanya perubahan. Masalah yang sering terjadi pada panel studies adalah peneliti kehilangan individu yang disurvey. Panel studies sesuai untuk periode survey yang lama.
Langkah-langkah dalam Penelitian Survey
1. Problem definition; definisi permasalahan
Masalah yang diselidiki atau pun disurvey sebaiknya menarik, penting dan cukup memberikan motivasi bagi individu yang disurvey untuk memberikan respon. Para peneliti memberikan tujuan yang jelas melaksanakan survey. Tujuan ini mencakup tujuan umum dan tujuan khusus. Tiap-tiap pertanyaan berhubungan dengan satu atau lebih tujuan survey. Strategi untuk membatasi pertanyaan dalam survey dengan menggunakan pendekatan hirarki (hierarchical approach); yang dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan umum secara luas dan diakhiri dengan peratanyaan yang bersifat spesifik.
2. Identification of the target population
Hampir segala sesuatu dapat disurvey. Sesuatu yang dipelajari dalam suatu survey disebut dengan satuan analisis (unit of analysis), misalnya: perusahaan, ruang kelas, sekolah dll. Sebagai contoh: survey tentang opini dari jurusan pada suatu sekolah tentang masalah kebijakan baru. Tiap-tiap anggota jurusan dijadikan sampel dan disurvey merupakan satuan analisis (unit of analysis). Data survey dikumpulkan dari sejumlah atau satu satuan analisis (unit of analysis) untuk menggambarkan satuan tersebut.
Uraian-uraian tersebut kemudian diringkas untuk menguraikan populasi dari satuan analisis tersebut. Pada contoh diatas, yang menjadi satuan analisis (unit of analysis) adalah sampel dari anggota jurusan, sedangkan populasinya semua anggota jurusan pada sekolah tersebut.
3. Mode of data collection
Beberapa cara pengumpulan data pada survey, antara lain melalui pengadministrasian secara langsung, surat, telepon, dan wawancara pribadi.
a. Pengadministrasian secara langsung
Metode ini digunakan apabila seorang peneliti mempunyai akses ke semua anggota kelompok tertentu pada satu tempat. Perangkat diatur untuk semua anggota kelompok pada waktu yang sama dan biasanya pada tempat yang sama pula.
Keuntungan dari metode ini adalah:
1) adanya respon yang tinggi, mendekati 100 %
2) biaya rendah
3) peneliti mempunyai kesempatan menjelaskan sebelum responden menjawab/mengisi kuesioner.
Kerugian dari metode ini adalah:
- tidak banyak tipe survey yang dapat menggunakan sampel individu yang dikumpulkan bersama-sama sebagai satu kelompok.
b. Pengumpulan data melalui surat
Data pada cara ini dikumpulkan melalui surat yang telah dikirimkan
Keuntungannya:
1) relatif murah
2) dapat dilakukan oleh peneliti sendiri atau dibantu dengan beberapa asisten
3) responden mempunyai waktu yang cukup untuk menjawab pertanyaan dengan serius
Kerugiannya:
1) peneliti mempunyai waktu/kesempatan yang sedikit untuk bekerja sama dengan responden ataupun untuk memberi penjelasan
2) kecenderungan menghasilkan nilai respon yang rendah
3) tidak menjamin akan dapat memperoleh informasi dari tipe sampel tertentu (misal: sampel buta huruf)
c. Pengumpulan data melalui telepon
Peneliti memberikan pertanyaan kepada responden dengan melalui telepon.
Keuntungannya:
1) lebih murah daripada dengan wawancara pribadi
2) dapat dilangsungkan dengan cepat
3) peneliti dapat membantu responden
4) membantu mengatasi apabila pewawancara enggan pergi
Kerugiannya:
1) akses pada responden/sampel tidak mungkin ada jika tanpa telepon atau tidak ada daftar nomor telepon.
2) kurang efektif untuk mencari informasi tentang masalah sensitif atau pertanyaan yang bersifat pribadi
d. Pengumpulan data melalui wawancara pribadi
Peneliti melaksanakan wawancara langsung (face-to-face) kepada responden
Keuntungannya:
1) paling efektif, adanya kerja sama dengan responden
2) laporan dapat ditulis
3) pertanyaan dapat diklarifikasi bila kurang jelas
4) jawaban tidak jelas/lengkap dapat ditindaklanjuti
5) mengurangi beban baca/tulis dari responden
Kerugiannya:
1) lebih mahal dibanding dengan survey surat ataupun telpon
2) memerlukan pewawancara yang terlatih (biaya pelatihan dan waktu)
3) respon adakalanya kurang valid untuk pertanyaan yang sensitif (adanya rasa malu dari responden)
4) sering mengalami kesulitan untuk jumlah responden yang besar

Keuntungan dan Kerugian Metode Pengumpulan Data Survey

Pengumpulan Data survey
Direct
Administration
Melalui
Telepon
Melalui
Surat
Wawancara
Perbandingan biaya
Perlu fasilitas
Memerlukan pelatihan
Waktu pengumpulan data
Respon
Memungkinkan administrasi kel.
Dengan sampel random
Memerlukan contoh
Ijin pertanyaan lanjutan
Mendorong ke topik sensitif
Standarisasi jawaban
Paling murah
Ya
Ya
Paling singkat
Sangat tinggi
Ya
Mungkin
Ya
Tidak
Kadang2
Mudah
Murah
Tidak
Ya
Singkat
Baik
Tidak
Ya
Tidak
Ya
Kadang2
Kadang2
Murah
Tidak
Tidak
Lebih lama
Paling jelek
Tidak
Ya
Ya
Tidak
Terbanyak
Mudah
Tinggi
Ya
Ya
Paling lama
Sangat tinggi
Ya
Ya
Tidak
Ya
Kurang
Paling keras
4. Seleksi Sampel
Sampel yang disurvey harus diseleksi dan mewakili dari populasi serta menarik (jika memungkinkan secara random). Peneliti harus memastikan bahwa sampel itu memiliki informasi yang ingin diperoleh dan responden berkeinginan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Apabila responden tidak tertarik pada topik yang diteliti maka peneliti melakukan persiapan awal terhadap responden untuk menilai daya penerimaannya. Di sekolah survey didasarkan pada tingkat tanggapan yang diperoleh dari daftar pertanyaan yang dikirim melalui seseorang yang diberikan otoritas untuk mengurus responden. Peneliti meminta para guru kelas untuk mengurus daftar pertanyaan para siswa mereka, peneliti tidak meminta secara langsung ke siswa. Sebagai contoh: pandangan para mahasiswa terhadap ketercukupan program pada universitas atau pandangan pengawas sekolah yang berstatus wanita menyangkut permasalahan administrasi mereka dll.
5. Penyiapan instrument
Di dalam penelitian survey, tipe instrument yang paling banyak digunakan adalah kuisioner dan daftar wawancara . Tipe-tipe ini merupakan tipe yang identik. Akan tetapi, di dalam kuisioner biasanya dilakukan langsung oleh responden sendiri sedangkan di dalam daftar wawancara dilakukan oleh peneliti. Adapun kharakteristik suatu instrumen yang menarik yang dapat berpengaruh terhadap berhasilnya suatu survey adalah pertanyaan-pertanyaan yang diajukan tidak terlalu panjang dan mudah dijawab.
Ada empat pertanyaan yang biasanya digunakan dalam survey, menurut Floyd Fowler, yaitu:
- Apakah pertanyaan dapat ditanyakan secara tertulis?
- Apakah pertanyaan mempunyai arti yang sama bagi semua orang?
- Apakah pertanyaan dapat dijawab oleh masyarakat?
- Apakah pertanyaan yang akan dijawab,sesuai prosedur pengumpulan data?
Jawaban bagi pertanyaan survey untuk setiap pertanyaan diatas adalah ’ya’, pertanyaan survey yang tidak sesuai standard di atas sebaiknya ditulis ulang.
Penting untuk diingat bagi para peneliti adalah:
- Apapun tipe instrumen yang digunakan, pertanyaan yang sama harus ditanyakan pada semua responden dalam sampel.
- Kondisi saat kuisioner dikerjakan atau saat wawancara berlangsung maka sebisa mungkin sama bagi semua responden
Types of Questions
Pertanyaan-pertanyaan dan cara menanyakan merupakan hal yang sangat penting dalam survey research. Susunan kata yang kurang bagus dalam pertanyaan akan menyebabkan kegagalan dalam survey. Bentuk tipe pertanyaan yakni (1) pilihan ganda (multiple-choice) yang digunakan untuk mengukur pendapat, sikap atau pengetahuan. (2) pertanyaan tertutup (closed-ended questions) yang memperbolehkan seorang responden untuk memilih jawabannya dari beberapa pilihan jawaban.
Karakteristik pertanyaan tertutup sebagai berikut:
- Mudah digunakan, diskor, dan diberi kode untuk analisa dengan komputer.
- Bilamana semua respon mempunyai pilihan yang sama, maka diperlukan standarisasi data.
- Relatif lebih sulit dibuat dibandingkan dengan pertanyaan terbuka.
- Memungkinkan adanya respon individu yang sebenarnya tidak ada dalam pilihan jawaban yang diberikan, untuk itu peneliti biasanya menyediakan pilihan ’yang lain’ untuk setiap item dari kuisioner.
Beberapa tips bagi peneliti untuk memperbaiki pertanyaan tertutup:
- Pertanyaan tidak mempunyai pengertian ganda
- Fokus pertanyaan dibuat sesederhana mungkin
- Pertanyaan dibuat singkat/ pendek
- Hilangkan pertanyaan awal (satu pertanyaan dalam satu item)
- Hilangkan kata ‘negatif’ dalam pertanyaan

Keuntungan dan kerugian pertanyaan terbuka dan pertanyaan tertutup

Pertanyaan terbuka
Pertanyaan tertutup
Keuntungan:
- lebih mudah dan lebih cepat untuk ditabulasi
- lebih dikenal oleh responden
Kerugian:
- respon yang terbatas
- memerlukan waktu lebih lama untuk membuat
memerlukan beberapa pertanyaan untuk topik penelitian
Keuntungan:
- lebih mudah dibuat
- bisa ditindaklanjuti oleh pewawancara
- memperbolehkan respon yang lebih bebas
Kerugian:
- respon dari responden dapat membentang dan bertentangan, baik isi maupun panjangnya.
- lebih sulit ditabulasi dan sintesa
Pretesting (Tes awal Kuisioner)
Setelah pertanyaan-pertanyaan tergabung dalam suatu kuisioner atau daftar wawancara telah ditulis, peneliti sebaiknya mengadakan uji coba dengan sampel kecil yang mempunyai potensi sama dengan responden. Suatu Pretest pada kuisioner atau daftar wawancara akan melahirkan dua hasil (kemungkinan) pertanyaan dengan susunan kata yang kurang bagus, pertanyaan yang tidak dimengerti, pilihan yang tidak jelas, dan dapat juga menunjukkan apakah instruksi kepada responden sudah jelas.
Format menyeluruh (Kuisioner)
Format suatu kuisioner merupakan hal yang sangat penting dalam mendukung responden untuk memberikan responnya. Hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun kuisioner adalah susunan tidak kacau, dimana dalam satu baris tidak boleh lebih dari satu pertanyaan.
6. Preparation of the cover letter (Penyiapan surat tertutup)
Survey yang dilakukan melalui pos memerlukan telepon dan wawancara pribadi apabila tidak ada penjelasan tujuan dari daftar pertanyaan. Idealnya surat tertutup itu juga memotivasi responden menjawabnya. Surat tertutup ini harus meringkas secara rinci dan menjelaskan tujuan kepada individu yang diminta untuk menjawab dengan menjaga kerahasiaanya. Jika memungkinkan peneliti memberikan kesediaan untuk berbagi hasil ketika penelitiannya sudah selesai. Itu dapat ikut membantu peneliti untuk memperoleh sponsor dari suatu institusi yang dikenal oleh responden. Secara khusus, sesuai waktu yang telah ditargetnya maka daftar pertanyaan sudah dikembalikan secara lengkap yang ditandai dan ditandatangani oleh peneliti, untuk menghindari pengembalian masuknya surat-surat lain.
7. Training of Interviewers
Survai dengan menggunakan telepon & wawancara langsung memerlukan pewawancara yang dilatih sebelumnya.
Pewawancara melalui telepon harus mengetahui:
  • Bagaimana menjelaskan dengan cepat fungsi/kegunaan responden dipanggil/ditelepon.
  • Menjelaskan pada responden mengapa informasinya diperlukan
  • Bagaimana memberikan pertanyaan sehingga responden dapat memberikan jawaban/ respon dengan tulus.
Sedangkan pewawancara secara langsung (face-to-face) sebaiknya :
  • Dapat menjelaskan dengan cepat pada responden tentang mengapa dilakukan wawancara
  • Dapat menjelaskan mengapa perlu memperoleh informasi dari responden
  • Bagaimana memberikan pertanyaan sehingga reponden dapat memberikan jawaban/ respon dengan tulus
  • Dapat membuat laporan hasil wawancara
  • Mengetahui bagaimana memberikan pertanyaan baru dan kembali kepada pertanyaan sebelumnya yang belum dijawab oleh responden
  • Dapat mengetahui kapan dan bagaimana menindaklanjuti jawaban yang kurang jelas maupun jawaban yang berpengertian ganda.
Pewawancara juga membutuhkan pelatihan dalam hal gerak tangan, ekspresi wajah, dan cara berpakaian. Bermuka masam dapat menghalangi seorang responden untuk menjawab pertanyaan.
8. Menggunakan metode wawancara untuk mengukur
Interviu telah digunakan secara luas untuk memperoleh informasi kognitif baik isi maupun proses. Contoh yang dilakukan oleh Jean Piaget dkk; mereka menggunakan semi structured sequence dari pertanyaan kontingensi untuk menentukan tingkat perkembangan kognitif anak.

Non Response

Pada hampir semua survai beberapa anggota sampel tidak memberikan respon, yang dikenal dengan istilah Non Response. Hal ini disebabkan oleh, antara lain: tidak/kurang tertarik pada topik survai, tidak mau dijadikan sampel (tidak ingin berpartisipasi dalam survai) dll.
Adapun Non Response dibagi dua kategori : total non respon dan item non respon.
a. Total Non Response
Graham Kalton menunjukkan bahwa total non response dapat terjadi pada survai interviu yang disebabkan karena :
- Responden menolak untuk diwawancarai
- Responden tidak ada di rumah ketika pewawancara menelpon
- Responden sakit, tidak tahu bahasa, tuli atau tidak ada di lokasi
- Survey dengan surat, beberapa kuisioner tidak dapat dikirim
- Beberapa responden mengembalikan kuisioner dengan tidak dijawab
Beberapa tehnik yang digunakan peneliti untuk mengurangi non response :
- Pewawancara dilatih untuk bersikap ramah dalam menanyakan suatu pertanyaan
- Pada survai dengan surat, nama dan identitas kerahasiaanya dijamin
- Kuisioner biasanya disusun mulai dari pertanyaan yang sederhana
- Bila responden tidak berada dirumah pewawancara bisa datang dilain waktu.
- Kuisioner dengan surat dapat diikuti dengan surat peringatan dua atau tiga kali
b. Item Non Response
Item Non response ini dapat terjadi oleh beberapa sebab :
- Responden tidak mengetahui jawaban pada pertanyaan yang khusus
- Responden hanya memiliki waktu singkat
- Pewawancara memberikan pertanyaan yang meloncat-loncat (tidak berurutan) sehingga pewawancara tidak bisa mencatat jawaban dengan baik
- Kadang-kadang pada tahap analisis jawaban pada pertanyaan tertentu tidak konsisten dengan jawaban lain
- Beberapa jawaban tidak jelas
Besarnya non response tergantung pada bentuk pertanyaan yang diajukan dan model pengumpulan data. Pertanyaan yang sangat sederhana biasanya mendapat response (no non response). Graham Kalton menaksir (menilai) bahwa : pertanyaan yang sulit atau sensitif akan menghasilkan jumlah non response yang tinggi , sedangkan untuk pertanyaan misalnya tentang penghasilan, belanja, biasanya mengahasilkan non response 10%
Beberapa petunjuk untuk meningkatkan nilai respon pada survey:
1). Administration of the questionnaire or interview schedule (pengaturan kuisioner atau daftar wawancara):
- Pastikan bahwa kelompok yang akan disurvey mengetahui sesuatu tentang informasi yang ingin diperoleh.
- Ciptakan kondisi yang sama untuk setiap individu dalam sample
- Pewawancara melalui telepon atau pewawancara langsung dilatih tentang bagaimana menanyakan / mengajukan pertanyaan.
2). Format kuisioner atau daftar wawancara :
- Pastikan cukup tempat bagi responden untuk mengisi data biografi yang diperlukan (umur, jenis kelamin, pendidikan dll)
- Pastikan bahwa setiap item pada kuisioner / daftar wawancara mempunyai hubungan dengan tujuan penelitian, ini akan menolong memperoleh informasi tentng tujuan
- Menggunakan pertanyaan tertutup (misalnya pilihan ganda ) lebih baik dari pada menggunakan pertanyaan terbuka ( jawaban/ respon bebas)
- Pastikan bahwa pertanyaan tidak mengandung ancaman psikologis
- Lakukan pretest terhadap kuisioner atau daftar wawancara pada kelompok kecil yang sama dengan sampel yang akan disurvai
3). Problem pada proses penyusunan instrumen dalam penelitian :
- Beberapa ancaman yang berlaku pada penyusunan instrumen dapat menyebabkan individu memberikan respon yang berbeda
- Bilamana peneliti tidak hati-hati dalam mempersiapkan kuisioner ini akan dapat memberikan respon yang berbeda (waktu wawancara yang tidak semestinya: saat makan siang, ruang yang sempit, dll)
- Karakteristik dari sipengumpul data ( pakaian yang menarik, bahasa yang tidak menghina, sikap tidak mengindahkan/ perhatian) dapat mempengaruhi respon individu
4). Analisa data dalam survai penelitian
- Setelah jawaban hasil survai dicatat, kemudian dianalisa
- Persentase respon sampel untuk setiap item dicatat, sehingga dapat diketahui persentase dari responden yang memilih setiap alternative jawaban untuk setiap pertanyaan. Contoh; item 26, yang menjawab setuju 80 %, yang tidak setuju 15 %, yang menjawab netral 5 %.
Hal yang Penting pada Penelitian Survey
1. Semua survey memiliki 3 karakteristik dasar, antara lain ;(a) mengumpulkan informasi, (b) dari sampel, (c) dengan mengajukan pertanyaan, untuk menguraikan beberapa aspek dari populasi dimana sampel berada.
2. Fungsi utama dari semua survey adalah untuk menguraikan karakteristik dari suatu populasi.
3. Ada dua tipe utama survey yang dapat dilakukan, yaitu : cross-sections surveys dan longitudinal surveys
4. Yang termasuk model longitudinal surveys meliputi antara lain : trend studies, cohort studies dan panel studies
5. Pada trend studies, sampel yang yang berbeda dari populasi yang sama disurvey pada titik waktu yang barbeda.
6. Pada cohort studies, populasi yang spesifik diikutkan selama periode waktu
7. Pada panel studies, sampel tidak berubah selama survey berlangsung
8. Survai tidak sesuai untuk semua topik penelitian khususnya untuk subyek yang perlu diobservasi atau variabel yang dimanipulasi
9. Ada empat jalan/cara mengumpulkan data dalam survai yaitu : surat, telepon, wawancara langsung, dan administrasi, yang masing-masing mempunyai keuntungan dan kerugian
10. Jika mungkin sampel yang disurvai sebaiknya dipilih secara random
11. Tipe instrument yang paling banyak digunakan dalam survai penelitian adalah kuisioner dan daftar wawancara
12. Pertanyaan dan cara mengajukan pertanyaan merupakan hal yang sangat penting dalam survai penelitian
13. Pada umumnya survai menggunakan bentuk pertanyaan tertutup
14. Instrumen survai sebaiknya dipre-teskan pada sampel kecil yang mempunyai potensi sama dengan responden
15. Contingency question adalah pertanyaan yang jawabanya merupakan bagian dari jawaban responden atas pertanyaan utama. Susunan yang baik dan urutan pertanyaan yang urut (teratur) merupakan hal yang sangat penting pada daftar wawancara
16. Surat pengantar adalah sebuah surat yang dikirimkan kepada responden (pada survai dengan surat) menjelaskan fungsi dari kuisioner
17. Pewawancara melalui telepon maupun pewawancara secara langsung memerlukan pelatihan sebelum mereka mengunakan instrument dalam survey
18. Total Non Response dan Item Non Response merupakan masalah utama dalam survey penelitian pada tahun-tahun belakangan ini
19. Persentase dari seluruh respon sampel untuk setiap item pada survai kuisioner dicatat, begitu juga porsentase dari seluruh sampel yang memilih setiap alternative jawaban pada setiap pertanyaan.