FILSAFAT PROGRESIVISME.
By: La Ludi
( Guru MAN 1 Kendari )
1. Latar Belakang.
Progresivisme bukan merupakan suatu bangunan filsafat atau aliran filsafat yang berdiri sendiri, melainkan suatu gerakan dan perkumpulan yang didirikan pada tahun 1918. Selama dua puluh tahunan merupakan suatu gerakan yang kuat di Amerika Serikat. Banyak guru yang ragu-ragu terhadap gerakan ini, kerena guru telah mempelajari dan memahami filsafat Dewey, sebagai reaksi terhadap filsafat lainnya. Kaum progresif sendiri mengkritik filsafat Dewey. Perubahan masyarakat yang dilontarkan oleh Dewey adalah perubahan secara evolusi, sedangkan kaum progresif mengharapkan perubahan yang sangat cepat, agar lebih cepat mencapai tujuan.
Pada mulanya, filsafat ini merupakan sebahagian dari pada pergerakkan sosial politik yang besar di Amerika di mana progresivisme mendukung cita-cita untuk pembaharuan umum dan progresivisme dipengaruhi kehidupan di Amerika Serikat pada abad ke 19 atau akhir abad ke 20. Ahli-ahli politik progresivisme seperti Robert La Follette dan Woodrow Wilson melakukan sistem demokrasi dilaksanakan untuk menggantikan dasar monopoli. Mereka memberi tumpuan untuk memperbaiki kehidupan manusia dalam masyarakat.
Progresivisme bertujuan memberi kemahiran dan alat yang diperlukan kepada individu untuk berinteraksi dengan sekitarnya yang senantiasa berubah secara konstan. Alat ini merupakan kemahiran penyelesaian masalah di mana individu boleh menggunakannnya untuk mengenal pasti, menganalisa dan menyelesaikan masalah di dalam mata pelajaran yang dipelajari seperti mata pelajaran matematika modern, matematika tambahan, teori, lukisan kesusasteraan dan banyak lagi. Sementara itu, progresivisme juga boleh digunakan untuk menyelesaikan masalah di dalam permasalahan-permasalahan berkaitan dengan pribadi atau personal dan juga sosial. Proses pembelajaran berfokus kepada kerjasama dan disiplin diri yang mana kedua-duanya adalah diperlukan untuk hidup dalam masyarakat berdemokrasi.
Gerakan progresif terkenal luas karena reaksinya terhadap formalime dan sekolah tradisional yang membosankan, yang menekankan disiplin keras, belajar pasif dan banyak hal-hal kecil yang tidak bermanfaat dalam pendidikan. Lebih jauh gerakan ini dikenal karena dengan himbauannya kepada guru-guru: "Kami mengharapkan perubahan, serta kemajuan yang lebih cepat setelah perang dunia pertama". Banyak guru yang mendukungnya, sebab gerakan pendidikan progresivisme merupakan semacam kendaraan mutahir, untuk digelarkan.
Dengan melandanya "adjustment" pada tahun tiga puluhan, progresivisme melancarkan gebrakannya dengan ide-ide perubahan sosial. Perubahan yang lebih diutamakan adalah perkembangan individual, yang mencakup berupa cita-cita, seperti "kerja sama ", "keadilan", dan "penyesuaian", yaitu kerja sama dalam semua aspek kehidupan, turut ambil bagian dalam semua kegiatan, dan memiliki daya fleksibilitas untuk menyesuaikan dengan perubahan-perubahan yang terjadi.
Pada tahun 1944 gerakan ini dibubarkan dan mengganti nama menjadi 'American Educational F ellowship". Gerakan progresif mengalami kemunduran setelah Rusia berhasil meluncurkan satelit pertamanya, yaitu "Sputnik". Selanjutnya cara kerja dan perkumpulan ini lebih menunjukkan karya-karya individual, seperti George Axtelle, William 0. Stanley, Ernest Bayley, Lawrence B. Thomas, dan Frederick C. Neff
2. Strategi Progresif
Filsafat progresif berpendapat bahwa pengetahuan yang benar pada masa kini mungkin tidak benar di masa mendatang. Oleh karena itu, cara terbaik mempersiapkan para siswa untuk suatu masa depan yang tidak diketahui adalah membekali mereka dengan strategi-strategi pemecahan masalah yang memungkinkan mereka mengatasi tantangan-tantangan baru dalam kehidupan dan untuk menemukan kebenaran-kebenaran yang relevan pada saat ini. Melalui analisis diri dan refleksi yang berkelanjutan, individu dapat mengidentifikasi nilai-nilai yang tepat dalam waktu yang dekat.
Orang-orang progresif merasa bahwa kehidupan itu berkembang dalam suatu arah positif dan bahwa umat manusia, muda maupun tua, baik dan dapat dipercaya untuk bertindak dalam minat-minat mereka sendiri. Berkenaan dengan ini, para pendidik (ahli pendidikan) yang memiliki suatu orientasi progresif memberi kepada para siswa sejumlah kebebasan dalam menentukan pengalaman - pengalaman sekolah mereka. Sekalipun demikian, pendidikan progresif tidak berarti bahwa para guru tidak memberi struktur atau para siswa bebas melaksanakan apapun yang mereka inginkan. Guru - guru progresif memulai dengan posisi di mana keberadaan siswa dan, melalui interaksi keseharian di kelas, mengarahkan siswa untuk melihat bahwa mata pelajaran yang akan dipelajari dapat meningkatkan kehidupan mereka.
Peran guru dalam suatu kelas yang beronentasi secara progresif adalah berfungsi sebagai seorang pembimbing atau orang yang menjadi sumber, yang pada intinya memiliki tanggung jawab untuk memfasilitasi pembelajaran siswa. Guru berhubungan dengan membantu para siswa mempelajari apa yang penting bagi mereka bukannya memberikan sejumlah kebenaran yang dikatakan abadi. Terhadap tujuan ini, guru progresif berusaha untuk memberi siswa pengalaman - pengalaman yang mereplikasi / meniru kehidupan keseharian sebanyak mungkin. Para siswa diberi banyak kesempatan untuk bekerja secara kooperatif di dalam kelompok, seringkali pemecahan masalah yang dlipandang penting oleh kelompok itu, bukan oleh guru.
3. Pendidikan
Progresivisme didasarkan pada keyakinan bahwa pendidikan harus terpusat pada anak bukannya memfokuskan pada guru atau bidang muatan. Tulisan - tulisan John Dewey pada tahun 1920-an dan 1950-an berkontribusi cukup besar pada penyebaran gagasan - gagasan progresif. Progresivisme pengikut Dewey didasarkan pada keenam asumsi berikut ini.
a. Muatan kurikulum harus diperoleh dari minat-minat siswa bukannya dari disiplin-disiplin akademik.
b. Pengajaran dikatakan efektif jika mempertimbangkan anak secara menyeluruh dan minat-minat serta kebutuhan-kebutuhannya dalam hubungannya dengan bidang - bidang kognitif afektif dan psikomotor.
c. Pembelajaran pada pokoknya aktif bukannya pasif. Guru yang efektif memberi siswa pengalaman-pengalaman yang memungkinkan mereka belajar dengan melakukan kegiatan.
d. Tujuan dan pendidikan adalah mengajar para siswa berpikir secara rasional sehingga mereka menjadi cerdas, yang memberi kontribusi pada anggota masyarakat.
e. Di sekolah, para siswa mempelajari nilai-nilai personal dan juga nilai-nilai sosial dan sains.
f. Umat manusia ada dalam suatu keadaan yang berubah secara konstan, dan pendidikan memungkinkan masa depan yang lebih baik dibandingkan dengan masa lalu.
Menurut Henderson (1959), pendidikan progresivisme dilandasi oleh filsafat naturalisme romantik dan Rousseau, dan pragmatisme dan John Dewey. Filsafat Jean Jacques Rousseau yang mendasani pendidikan progresivisme adalah pandangan tentang hakikat manusia, sedangkan dan pragmatisme Dewey, adalah pandangan tentang minat dan kebebasan dalam teori pengetahuan.
Rousseau, seorang ahli filsafat Perancis, mendasari pemiikiran-pemikiran pendidikannya dengan ucapannya yang terkenal, yaitu:
" Semuanya adalah baik karena datang dari tangan-tangan dari penulis secara alami, tetapi semuanya akan merosot tergantung dari tangan dari manusia") (Henderson, 1959 : 30). Jadi, segala sesuatu, termasuk anak, dilahirkan adalah baik berasal dari pencipta alam, namun semuanya itu mengalami degenerasi, penyusutan martabat, dan nilai-nilai kemanusiaannya karena tangan-tangan manusia. Rousseau mengklaim bahwa ia merupakan nabi dan pendidikan naturalisme, demikian menurut Jame dan Rose (1941). Manusia memiliki kebebasan bertindak. Barang siapa mengingkari kebebasan seseorang, berarti mengingkari kualitasnya sebagai manusia, menyangkal hak, dan kewajiban kemanusiaan. Karena hal itu semua bertentangan dengan hakikat manusia. Menyangkal kebebasan dan kemauan manusia berati meniadikan kesusilaan dan tindakannya.
James S. Rose (1941 :88) mengemukakan pandangan Rousseau tentang pendidikan, dengan mengutip tulisan Rousseau dan "Emile" sebagai berikut:
Manusia pada hakikatnya baik, namun masyarakat manusialah yang rnenjadikan dia jahat. Rousseau ingin menjadikan anak terpisah dari kelompok manusia. Emile mengatakan belajar dari alam, bukan dari manusia. Ia belajar pengalaman dari pribadinya secara langsung, bukan dari mata pelajaran ( pengalaman yang telah diorganisasikan manusia), ia adalah penemu bukan peniru, ia dimunculkan daya kreasinya, bukan daya ingatannya, ia belajar tengantung pada dirinya, bukan kepada orang lain. Oleh karena itu, anak harus memiliki kebebasan yang besar untuk bertindak.
Rousseau ingin menjauhkan anak dari segala keburukan masyarakat yang serba dibuat-buat, sehingga kebaikan anak-anak yang dimiliki secara alamiah sejak saat kelahiran dapat berkembang secara spontan dan bebas. Pendidikan menurut Rousseau, harus dapat menjauhkan anak dari segala yang bersifat dibuat-buat dan dapat membawa anak kembali pada alam untuk mempertahankan segala yang baik sebagaimana yang telah diberikan oleh Yang Maha Pencipta. Rousseau menginginkan dikembangkannya aturan masyarakat yang deniokratis, sehingga kecenderungan alamiah anggota masyarakat dapat terwujud sebagaimana adanya. Suatu bentuk pendidikan tertentu perlu diselenggarakan untuk menjaga agar perwujudan alamiah tersebut tidak dirugikan.
Rousseau sebagai tokoh naturalisme, menekankan aktivitas pribadi, kebebasan dan ekspresikan diri. Anak pada hakikatnya adalah baik, dan alam juga baik, namun masyarakatlah yang menjadikan anak tidak baik. Pendidikan mengutamakan minat dan kebutuhan anak. Oleh karena itu, program pendidikan akan diorganisasi sekitar dan sesuai dengan minat serta kebutuhan anak.
Pandangan progresivisme tentang realitas, seperti halnya pandangan John Dewey, bahwa "perubahan" dan "ketidak tetapan" merupakan esensi dari realitas. Menurut progresivisme, pendidikan selalu dalam proses pengembangan, penekanannya adalah perkembangan individu, masyarakat, dan kebudayaan. Pendidikan harus siap memperbaharui metode, kebijaksanaannya, berhubungan dengan perkembangan sains dan teknologi, serta perubahan lingkungan.
Untuk memperoleh pengetahuan yang benar, kaum progresif sepakat dengan pandangan Dewey, yaitu menekankan pengalaman indera, belajar sambil bekerja, dan mengembangkan intelegensi, sehingga anak dapat menemukan dan memecahkan masalah yang dihadapi.
Kualiatas atau hasil dari pendidikan, tidak ditentukan dengan menentukan atau menetapkan suatu ukuran yang berlaku secara mutlak dan abadi. Norma atau nilai kebenaran yang abadi tidak dapat dijadikan ukuran untuk menentukan berhasil tidaknya usaha pendidikan. Pendidikan dapat diartikan sebagai suatu rekonstruksi pengalaman yang berlangsung secara terus-menerus.
4. Perhatian Terhadap Anak Didik.
Proses belajar terpusat kepada anak, namun hal ini tidak berarti bahwa anak akan diizinkan untuk mengikuti semua keinginannya, karena ia belum cukup matang untuk menentukan tujuan yang memadai. Anak memang banyak berbuat dalam menentukan proses belajar, namun ia bukan penentu akhir. Peserta didik membutuhkan bimbingan dan arahan dari guru dalam melaksanakan aklivitasnya.
Pengalaman anak adalah rekonstruksi yang terus-menerus dari keinginan dan kepentingan pribadi. Mereka aktif bergerak untuk mendapatkan isi mata pelajaran yang logis. Guru mempengaruhi pertumbuhan siswa, tidak dengan menjejalkan inform asi ke dalam kepala anak, melainkan dengan pengawasan lingkungan di mana pendidikan berlangsung. Pertumbuhan diartikan sebagai peningkatan intelegensi dalam pengelolaan hidup dan adaptasi yang intelegen terhadap lingkungan.
5. Tujuan Pendidikan.
Sekolah merupakan masyarakat demokratis dalam ukuran kecil, di mana siswa akan belajar dan praktek keterampilan yang dibutuhkan untuk hidup dalam demokrasi. Dengan pengalamannya, siswa akan mampu menghadapi perubahan dunia. Karena realitas berubah terus - menerus, kaum progresif tidak memusatkan perhatiaannya terhadap body of knowledge yang pasti, sama seperti halnya dengan pandangan perenialisme dan esensialisme. Kaum progresif menekankan "bagaimana berpikir", bukan "apa yang dipikirkan ".
Tujuan pendidikan adalah memberikan keterampilan dan alat- alat yang bermanfaat untuk berinteraksi dengan lingkungan yang berada dalam proses perubahan secara terus-menerus. Yang dimaksud dengan alat-alat adalah keterampilan pemecahan masalah yang dapat digunakan oleh individu untuk menentukan, menganalisis, dan memecahkan masalah. Proses belajar terpusatkan pada perilaku cooperative dan disiplin diri. Di mana kebudayaan sangat dibutuhkan dan sangat berfungsi dalam masyarakat.
6. Pandangan Tentang Belajar
Kaum progresif menolak pandangan bahwa belajar secara esensial merupakan penerimaan pengetahuan sebagai suatu subtansi abstrak yang diisikan oleh guru ke dalam jiwa anak. Pengetahuan menurut pandangan progresif merupakan alat untuk mengatur pengalaman, untuk menangani situasi baru secara terus-menerus, di mana perubahan hidup merupakan tantangan di hadapan manusia.
Manusia harus dapat berbuat dengan pengetahuan. Oleh karena itu, pengetahuan harus bersumber pada pengalaman. Menurut Dewey kita harus mempelajari apa saja dan sains eksperimental. Penelusuran pengetahuan abstrak harus diartikan ke dalam pengalaman pendidikan yang aktif. Apabila siswa menghasilkan suatu apresiasi yang nyata yang berkaitan dengan ide-ide politik dan sosial, kelas (sekolah) itu sendiri harus menjadi eksperimen kehidupan dalam demokrasi sosial. Pengalaman dan eksperimen merupakan kata-kata kunci dalam kegiatan belajar mengajar.
Dewey tidak menolak isi kurikulum tradisional. Sebaliknya kurikulum tersebut perlu dipelihara dan dikuasai. Selanjutnya Dewey mengatakan bahwa yang perlu diingat adalah materi pelajaran atau isi pelajaran selalu berubah terus-menerus sesuai dengan perubahan yang berlaku dalam lingkungannya. Oleh karena itu, pendidikan tidak dibatasi hanya pada sekedar pengumpulan informasi dari guru atau dari text book saja. Belajar bukan penerimaan dan penerapan terhadap pengetahuan terdahulu yang telah ada, melainkan suatu rekonstruksi yang terus-menerus sesuai dengan penemuan-penemuan baru. Oleh karena itu, pemecahan masalah (dengan metode ilmiah), harus dilihat bukan hanya dan sekedar penyelidikan pengetahuan fungsional, melainkan sebagal suatu kaitan yang secara terus-menerus dengan subject matter.
7. Kurikulum dan Peranan Guru.
Kurikulum disusun sekitar pengalaman siswa, baik pengalaman pribadi maupun pengalaman sosial. Sains sosial sering dijadikan pusat pelajaran yang digunakan dalam pengalaman-pengalaman siswa, dan dalam pemecahan masalah serta dalam kegiatan proyek. Pemecahan masalah akan melibatkan kemampuan berkomunikasi, proses matematis, dan penelitian ilmiah. Oleh karena itu, kurikulum seharusnya menggunakan pendekatan interdisipliner. Buku merupakan alat dalam proses belajar, bukan sumber pengetahuan. Metode yang dipergunakan adalah metode ilmiah dalam inkuiri dan metode problem solving
Peranan guru adalah membimbing siswa-siswa dalam kegiatan pemecahan masalah dan kegiatan proyek. Mungkin akan banyak guru yang kurang senang terhadap peran ini, karena didasarkan atas suatu anggapan bahwa siswa mampu berpikir dan mengadakan penjelajahan terhadap kebutuhan dan minat sendiri.
Guru harus menolong siswa dalam menentukan dan memilih masalah-masalah yang bermakna, menemukan sumber-sumber data yang relevan, manafsirkan dan menilai akurasi data, serta merumuskan kesimpulan. Guru harus mampu mengenali siswa, terutama pada saat apakah ia memerlukan bantuan khusus dalam suatu kegiatan, sehingga ia dapat meneruskan penelitiannya. Guru dituntut untuk sabar, fleksibel, berpikir interdisipliner, kreatif, dan cerdas.
8. Prinsip - prinsip Pendidikan
Secara umum terdapat beberapa prinsip pendidikan menurut pandangan progresivisme, yaitu :
1) Pendidikan adalah hidup itu sendiri, bukan persiapan untuk hidup. Kehidupan yang baik adalah kehidupan intelegen, yaitu kehidupan yang mencakup interpretasi dan rekonstruksi pengalaman. Anak akan memasuki situasi belajar yang disesuaikan dengan usianya dan berorientasi pada pengalaman. Tidak ada tujuan umum dan akhir pendidikan. Pendidikan adalah pertumbuhan berikutnya.
2) Pendidikan harus berhubungan secara langsung dengan minat anak, minat individu, yang dijadikan sebagai dasar motivasi belajar. Sekolah menjadi "pusat perhatian siswa”, di mana proses belajar ditentukan terutama oleh anak. Secara kodrati anak suka belajar apa saja yang berhubungan dengan minatnya, atau untuk memecahkan masalahnya. Begitu pula pada dasamya anak akan menolak apa yang dipaksakan kepadanya. Anak akan belajar dan mau belajar karena merasa perlu, tidak karena terpaksa oleh orang lain. Anak akan mampu melihat relevansi dan apa yang dipelajari terhadap kehidupannya, bahkan juga terhadap konsepsi kehidupan orang dewasa.
3) Belajar melalui pemecahan masalah akan menjadi lebih baik terhadap pemberian subjeck matter. Jadi, belajar harus dapat memecahkan masalah yang penting dan bermanfaat bagi kehidupan anak. Dalam memecahkan suatu masalah, anak dibawa berpikir melewati beberapa tahapan, yang disebut metode berpikir ilmiah, sebagai berikut:
a) anak menghadapi keraguan, merasakan adanya masalah;
b) menganalisis rnasalah tersebut, dan menduga atau menyusun hipotesis-hipotesis yang mungkin;
c) mengumpulkan data yang akan membatasi dan memperjelas
masalah;
d) memilih dan menganalisis hipotesis;
e) mencoba, menguji, dan membuktikan.
4) Peranan guru tidak langsung, melainkan memberi petunjuk kepada siswa. Kebutuhan dan minat siswa akan menentukan apa yang mereka pelajari. Anak harus diizinkan untuk merencanakan perkembangan diri mereka sendiri, dan guru harus membimbing kegiatan belajar.
5) Sekolah harus memberi semangat bekerja sama, bukan mengembangkan persaingan. Manusia pada dasamya sosial, dan keputusan yang paling besar pada manusia karena ia berkomunikasi dengan yang lain. Progresivisme berpandangan bahwa kasih sayang dan persaudaraan lebih berharga bagi pendidikan dan pada persaingan dan usaha pribadi. Karena itu, pendidikan adalah rekonstruksi pengalaman, mengarah kepada rekonstruksi manusia dalam kebidupan sosial. Persaingan tidak ditolak, namun persaingan tersebut harus mampu mendorong pertumbuhan pribadi.
6) Kehidupan yang demokratis merupakan kondisi yang diperlukan bagi pertumbuhan. Demokrasi, pertumbuhan, dan pendidikan saling berhubungan. Untuk mengajar demokrasi, sekolah sendiri harus demokratis. Sekolah harus menekankan siswa, diskusi bebas tentang suatu masalah, partisipasi penuh dalam semua pengalaman pendidikan. Namun, sekolah tidak mengindoktrinasi siswa-siswa dengan tatanan sosial yang baru.
9. Potret Guru Progresif
Pak Husen mengajar IPS di suatu sekolah menengah. Ia tampaknya bergaul baik dengan para siswa. Ia suka memberi siswa kebebasan memilih sebanyak mungkin di kelas. Karena itulah, ruangannya dibagi-bagi menjadi pusat minat dan aktivitas, dan para siswa bebas memiiih dimana mereka ingin menghabiskan waktu mereka.
Pak Husen bermaksud membangun hubungan yang hangat dan sportif dengan para siswa. Ia bangga terhadap fakta bahwa ia adalah teman para siswa mereka. Pengunjung kelas Pak Husen saat ini tepat merasakan penerimaannya yang jelas bagi siswa. Ia secara sungguh-sungguh peduli rnengenai pertumbuhan dan pendidikan masing-masing siswa. Ketika para siswa rnenghabiskan sebagian besar dan waktu mereka bekerja dalam kelompok-kelompok kecil pada beragam aktivitas yang terpusat pada ruangan tersebut, Pak Husen membagi waktunya di antara kelompok-kelompok itu.
Sebanyak mungkin Ia membawa pengetahuan buku teks pada kehidupan dengan memberi para siswa pengalaman-pengalaman yang tepat, seperti: kunjungan lapangan, proyek kelompok kecil, aktivitas simulasi, bermain peran, eksplorasi internet, dan sebagainya. Pak Husen percaya bahwa fungsi pokoknya sebagai seorang guru adalah mempersiapkan para siswanya untuk masa depan yang tidak dikenal. Ia merasa bahwa belajar memecahkan permasalahan pada usia dini adalah persiapan yang terbaik untuk masa depan ini.
10. Kritik terhadap progresivisme.
Ada beberapa kritik yang dilontarkan pada pandangan progresivisme, di antaranya:
1) Siswa tidak mempelajari warisan sosial. Mereka tidak mengetahui apa yang seharusnya diketahui oleh orang terdidik.
2) Menolak kurikulum yang telah ditentukan, yang menjadi tradisi sekolah. Membuat kurikulum tersendiri
3) Mengurangi bimbingan dan pengaruh guru. Siswa memilih aktivitas sendiri.
4) Siswa menjadi orang yang dapat mementingkan diri sediri, ia menjadi manusia yang tidak memiliki disiplin diri sendiri, dan tidak mau berkorban demi kepentingan umum.
PROGRESSIVISME
Gerakan progresif terkenal luas karena reaksinya terhadap formalime dan sekolah tradisional yang membosankan, yang menekankan disiplin yang keras, belajar pasif, dan banyak hal-hal kecil tidak bermanfaat dalam pendidikan. Dari sejak tahun 1870-an Francis W.Parker, mendukung perubahan sekolah, kemudian ditinjau kembali dan disusun oleh Yohanes Dewey sampai tahun 1915, sebelum Progressive Education Association itu ditemukan. Jadi; Dengan demikian, proressivism sudah lama bergerak selama 30 tahun dan dampak nya sebenarnya telah dirasakan.
Akibat dari berbagai tekanan yang terjadi di dalam tahun 1930-an, progressivisme melancarkan gerakannya dengan ide-ide perubahan sosial. Perubahan yang lebih diutamakan adalah perkembangan individual, yang mencakup berupa cita-cita, seperti "kerjasama," "keadilan," dan "penyesuaian”, yaitu kerjasama dalam semua aspek kehidupan, turut ambil bagian dalam semua kegitan, dan memiliki daya fleksibilitas untuk menyesuaikan dengan perubahan-perubahan yang terjadi. Asosiasi Education yang progresif telah lama dibubarkan, dan mengalami kemunduran terutama setelah USSR meluncurkan Sputnik nya, tetapi progressivisme melanjutkan cara-cara kerja dan perkumpulannya dengan lebih menunjukkan karya-karya individual, seperti George Axtelle, William O.Stanley, Ernest Bayles, Lawrence G.Thomas, dan Frederick C.C. Neff.
Berdasarkan pandangan pragmatis bahwa perubahan, dan ketidak tetapan”, adalah hakekat dari kenyataan. Progressivisme dalam wujud yang murni memperkenalkan bahwa pendidikan adalah selalu dalam proses pengembangan. Pendidik-pendidik harus siap untuk memodifikasi metoda-metoda dan kebijakan-kebijakan, berhubungan dengan perkembangan pengetahuan dan perubahan yang baru di dalam lingkungan. Mutu pendidikan, tidak ditentukan dengan menerapkan suatu ukuran standar-standar kebaikan, kebenaran, dan keindahan, tetapi dengan pendidikan diartikan sebagai suatu rekonstruksi pengalaman yang berkesinambungan secara terus menerus.
Secara umum terdapat beberapa prinsip pendidikan menurut pandangan progresivisme, yaitu :
1) Pendidikan adalah hidup itu sendiri, bukan persiapan untuk hidup. Kehidupan yang baik adalah kehidupan intelegen, yaitu kehidupan yang mencakup interpretasi dan rekonstruksi pengalaman. Anak akan memasuki situasi belajar yang disesuaikan dengan usianya dan berorientasi pada pengalaman-pengalaman bahwa anak akan mengalami kehidupan orang dewasa.
2) Pengajaran harus secara langsung dihubungkan dengan berbagai kepentingan anak. Pendidik progresif harus memperkenalkan konsep "anak secara utuh" sebagai satu jawaban atas apa yang mereka pertimbangkan; terhadap anggapan atau penafsiran sebagian sifat anak. Jadi; Dengan demikian sekolah menjadi pusat "perhatian anak ", di mana proses belajar ditentukan oleh setiap anak. Secara kodrati anak suka belajar apa saja yang berhubungan dengan minatnya, atau untuk memecahkan masalahnya. Begitu pula pada dasamya anak akan menolak apa yang dipaksakan kepadanya. Anak akan belajar dan mau belajar karena merasa perlu, tidak karena terpaksa oleh orang lain. Anak akan mampu melihat relevansi yang dipelajari terhadap kehidupannya, bahkan juga terhadap konsepsi kehidupan orang dewasa.
Hal ini tidak berarti bahwa anak itu harus diizinkan untuk mengikuti setiap dorongan keinginan-keinginan nya sendiri, walaupun hanya untuk fakta bahwa anak tidak cukup dewasa untuk menggambarkan tujuan-tujuan penting. Dan meski mungkin kebanyakan anak menentukan proses pelajaran, ia bukanlah tujuan yang akhir. Anak memerlukan bimbingan dan arahan dari para guru dalam segala aktivitasnya. Anak mengalami suatu rekonstruksi yang berkesinambungan berbagai kepentingan pribadi nya ketika mereka melakukan berbagai aktivitas yang penting dan logis.
Meskipun demikian, guru yang progresif mempengaruhi pertumbuhan dari para murid nya, bukan hanya dengan memberikan informasi ke dalam pikiran mereka, akan tetapi dengan pengendalian lingkungan di mana pertumbuhan berlangsung. Pertumbuhan digambarkan sebagai peningkatan dari kecerdasan atau inteligensi di dalam pengelolaan penyesuaian hidup di dalam lingkungannya.
References.
Kneller, George F. (1971). Introduction to the Philosophy of Education, New York : John Willey Sons Inc.

